Sejarah Desa

Sejarah Desa Sumberagung

Pada jaman dahulu kala tepatnya  pada masa Kasunanan Surakarta Hadiningrat Desa Sumberagung merupakan Bumi Perdikan Gitodipuran Kliwonan Kacangan dengan nama Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo. Pada waktu itu Kademangan dipegang oleh Eyang Demang Gunoredjo I, Eyang Demang Gunoredjo II, Eyang Demang Prawiroredjo, Eyang Demang Gitomanggolo, Eyang Lurah Martowiguno dan Eyang Lurah Surokartiko.

Eyang Singo Handoko atau Eyang Sigodrono adalah seseorang dari Kademangan Puluhwatu Waladan Kabupaten Klaten. Pada masa perang Jawa atau peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1925 sampai dengan tahun 193,  Eyang Singo Handoko atau Eyang Singodrono keluar dari kedudukannya sebagai Demang kemudian beliau bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro, dengan niat baik dari Eyang Singo Handoko atau Eyang Singodrono adalah untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi ini.

Pada masa itu, Eyang Singo Handoko atau Eyang Singodrono adalah orang yang berpengalaman dan menjabat sebagai Demang. Pangeran Diponegoro mengangkat beliau menjadi tangan kanan dari Pangeran Diponegoro. Mereka bertempur melawan pasukan Belanda hingga pasukan Belanda dipukul mundur. Kekalahan pasukan Belanda melawan Pasukan Pangeran Diponegoro, pasukan Belanda mengajak  berunding untuk damai. Perundingan dilaksanakan di Pendopo Karesidenan Magelang. Pasukan Belanda melakukan kelicikan dengan melucuti semua pasukan Pangeran Diponegoro dan hanya boleh sampai di halaman Pendopo Karesidenan Magelang tersebut. Pangeran Diponegoro terus diajak ke Pendopo Karesidenan Magelang kemudian beliau ditangkap oleh Pasukan Belanda dan sampai akhirnya Pangeran Diponegoro dibuang ke Digul, Makasar.

Setelah penangkapan Pangeran Diponegoro tersebut, pasukan Pangeran Diponegoro yang tersisa mengadakan penyerangan kembali terhadap Pasukan Belanda namun pasukan Pangeran Diponegoro dipukul mundur oleh Pasukan Belanda hingga berantakan. Eyang Singo Handoko atau Eyang Singodrono akhirnya lari sampai masuk daerah Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo, agar beliau tidak dapat dikenali lagi oleh Pasukan Belanda maka oleh Eyang Demang terdahulu beliau diganti namanya menjadi Eyang Singodrono dan kemudian menjadi warga Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo.

Menurut penuturan para sesepuh desa,  ada cerita lain yaitu ada seseorang bernama Eyang Singopuro yang memegang Bupati di Karang Duwet yang pada saat ini disebut Kabupaten Boyolali. Eyang Singopuro mempunyai seorang istri dari Eyang Ngabehi di Pereng Teter, dan mempunyai seorang anak bernama Sardulo. Suatu hari karena suatu keadaan Eyang Putri diceraikan dan dikembalikan ke Pereng Teter. Sardulo kemudian dipelihara oleh Eyang Ngabehi di Pereng Teter juga.

Setelah Sardulo menginjak dewasa beliau tidak mau bekerja, kesenagannya hanya mengembara atau (nglambrang). Suatu hari Sardulo mengembara sampai di Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo atau dukuh Ngegot.  Selama di Kademaangan Pangrembe Nguntoroharjo, Sardulo bertemu seorang gadis cantik dari keluarga Eyang Tirtomedjo atau cucu dari Eyang Gunorejo Demang Pangrembe Nguntoroharjo.  Eyang Tirtomejo adalah adik dari Eyang Demang Prawiroredjo.

Sejarah lain mengatakan sebelum tahun 1914 di sebuah padukuhan letaknya di perbukitan hutan belantara di sebelah selatan padukuhan Grintingan,  terdapat padukuhan yang namanya Sumberagung. Menurut penuturan para orang tua bahwa padukuhan tersebut berawal dari kehadiran seseorang yang benama Eyang Darmo Romli. Beliau adalah seorang perantauan dari Sondakan Surakarta Hadiningrat. Dalam padukuhan tersebut, Eyang Darmo Romli melaksanakan pertapaan selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah melaksanakan pertapaan, Eyang Darmo Romli tidak menetap dipadukuhan tersebut karena tidak betah dan kembali ke Sondakan Surakarta Hadiningrat.

Beliau kemudian menemui saudaranya di Laweyan Surakarta Hadinigrat yang bernama Eyang Abdul Jalil. Setelah bertemu dengan Eyang Abdul Jalil, Eyang Darmo Romli menguraikan perjalanan dan pertapaannya di padukuhan tersebut. Setelah diuraikan panjang lebar bahwa tempat yang telah dijadikan pertapaan Eyang Darmo Romli tersebut adalah milik  Eyang Abdul Jalil.

Setelah pertemuan tersebut Eyang Darmo Romli menyuruh Eyang Abdul Jalil meneruskan perjuangannya melakukan pertapaan di padukuhan tersebut selama seratus dua puluh hari, namun dilaksanakan dalam tiga tahap pertapaan atau 3 kali pertapaan. Setelah selesai dalam pertapaannya di suatu hari di padukuhan tersebut terjadi hujan lebat disertai angin kecang yang sangat dahsyat, akan tetapi setelah terjadi peristiwa tersebut munculah sebuah mata air yang sangat bagus di sebelah barat padukuhan tersebut hingga mata airnya sangat banyak dan tidak bisa berhenti sampai saat ini.

Dari kejadian ini oleh Eyang Abdul Jalil Padukuhan tersebut dinamakan Padukuhan Sumberagung, kemudian Eyang Abdul Jalil mendirikan rumah dibantu oleh para tetangga dan sekaligus mendirikan Masjid Sumberagung. Setelah berdiri Masjid tersebut kemudian dijadikan tempat menimba ilmu dan didirikan Pondok Pesantren, adapun keturunan dari Eyang Abdul Jalil yang masih hidup adalah KH Abdullah Sajadi  dan beliau adalah Tokoh Agama dilingkungan Desa Sumberagung, dan Tokoh Agama terpenting di Kabupaten Boyolali.

Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia, kurang lebih pada tahun 1942 desa Sumberagung masih bernama Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo yang dipimpin oleh para Eyang Demang pada waktu itu, pada Kasunanan Surakarta Hadiningrat kurang lebih pada tahun 1912 sampai dengan tahun 1920 Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo diperintah oleh Eyang Buyut Gito Manggolo, adapun wilayah Ngegot Tempel dan sekitarnya termasuk Bumi Perdikan Gitodipuran Kliwonan Kacangan.

Kemudian sebelum tahun 1914 Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo diperintah oleh Eyang Lurah Surokartiko, yang pada saat itu beliau bertempat tinggal di padukuhan Sendangserut dan kemudian pindah ke padukuhan Getas. Eyang Lurah Surokartiko itu berpindah – pindah tempat tinggalnya, dan hanya memegang pemerintahan ± 3,5 tahun maka beliau mendapat julukan Lurah Pongkrong. Pada masa pemerintahannya, beliau mendapat amanat mandat atau perintah dari Kanjeng Gusti Rio Kusumo dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Isi daripada amanat, mandat, perintah tersebut bahwa Kademangan Pangrembe Nguntoroharjo agar diganti namanya menjadi Kelurahan Sumberagung. Nama Sumberagung diambilkan dari padukuhan yang didirikan oleh Eyang Abdul Jalil. Adapun wilayah Kalurahan Sumberagung meliputi dukuh Ngegot, Tempel, Sumurduren, Karangpakel, Selorejo, Sumber, Sumberejo, Getas, Sendangserut, Grintingan, Ngasem dan Sumberagung, dengan nama Sumberagung tersebut tersirat bahwa warga masyarakat Kalurahan Sumberagung adalah orang – orang yang baik serta mempunyai harapan bahwa dengan nama kalurahan Sumberagung pada akhirnya menjadi kelurahan yang Lohjinawi, dengan kata lain Kalurahan yang Gemahripah, Tata Tentrem Kertoraharjo.

Berita Terkini