Swadaya Melalui Tempe
Kamis 18 Mei 2017

Sumberagung - Banyak orang yang memandang remeh tempe. Kandungan gizi dan nutrisi dalam sebungkus tempe tidak berbeda dengan daging. Sayang, pemerintah saat ini tampaknya tidak berpihak kepada pengusaha kecil penghasil sumber nutrisi nabati ini.

Salah satunya adalah Roni. Pemuda berusia sekitar 30an tahun ini setiap hari memproduksi tempe murni, yang menjadi andalan Desa Sumberagung. Keluarga besar Roni adalah salah satu dari dua produsen utama tempe murni di desa tersebut. Seperti pemuda desa lain, Roni dulunya hanyalah seorang pegawai pabrik. Ibunya menjadi perintis usaha tempe tersebut sejak delapan tahun lalu. Buah jatuh tidak jauh pohonnya, Roni tertarik untuk meneruskan usaha tersebut. Roni bahkan nekat merubah status karyawannya menjadi seorang pengusaha tempe.

Mulanya, Ibu Roni hanya memproduksi dalam jumlah kecil hanya menggunakan lima kilogram kedelai setiap harinya. Kini produksi tempe telah mencapai delapan puluh kilogram kedelai perharinya. Delapan puluh kilo bahan baku kedelai tersebut mula-mula dicuci sampai bersih. Tidak cukup hanya dengan tangan untuk membersihkan bahan baku, melainkan dengan cara dibungkus karung untuk kemudian diinjak-injak sampai seluruh kotoran meluruh. Kedelai yang sudah benar-benar bersih lalu dicampur dengan ragi khusus tempe kemudian dikemas sesuai takaran dalam plastik yang sudah dilubangi terlebih dahulu.

Inilah letak perbedaan tempe murni produksi Roni dari produsen lainnya. Tempe dikemas menggunakan plastik dengan tujuan agar lebih cepat dan mampu memproduksi jamur pengikat dalam jumlah banyak sehingga waktu produksinya lebih cepat. Tempe buatan Roni tahan hingga lima hari sejak dibuat.

Setiap subuh, tidak kurang dari lima ratus bungkus tempe murni telah siap untuk dipasarkan. Dalam penjualan, Roni menetapkan dua jenis harga,grosir dan eceran. Harga grosir berlaku untuk para tengkulak dengan harga sepuluh ribu rupiah untuk setiap lusin, sedangkan harga eceran seribu rupiah per bijinya.

Ibunda Roni sebagai perintis usaha mengaku, sistem penjualan menerapkan asas kepercayaan. Tidak dihitung berapa banyak keuntungan pasti per harinya. Hal tersebut sangat bergantung pada berapa banyak tempe yang terjual dan yang kembali daripasaran. Setiap tengkulak biasanya membeli lima puluh ribu rupiah.

“Biasanya pagi ambil, ada yang siang langsung dibayar, ada yang baru dibayar besok, gitu,” ungkap Ibu Roni Hingga saat ini, tengkulak langganan Roni meliputi wilayah Kemusu, hingga Pasar Jetis Kabupaten Boyolali.

Jumlah produksi setiap harinya sebenarnya bisa saja berkurang, tergantung pada cuaca, dan hari-hari besar. Pada bulan puasa, kebutuhan konsumen cenderung pada dagingsapidan ayam sehingga Roni mengurangi stok bahan bakunya hingga dua puluh kilo per hari untuk menghindari kerugian. Pada saat Hari Raya Idul Fitri justru menjadi puncak keemasannya, masyarakat mencari tempe murni sebagai hidangan pelengkap ketupat.

Roni berharap, pemerintah lebih memperhatikan pengusaha-pengusaha kecil seperti usaha keluarganya ini, sehingga, ke depan akan memperoleh dukungan berupa bantuan alat dan modal untuk mengembangkan produksinya.

Berita Terkini