Sadranan: Bukan Musrik, Hanya Untuk Mengingat Leluhur

Tradisi Nyadran atau biasa disebut dengan Sadranan adalah sebuah tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Islam Jawa, terutama sebagian besar masyarakat Jawa Tengah. Nyadran berasal dari bahasa sansekerta Sraddha yang berarti Keyakinan, dalam bahasa jawa nyadran berasal dari kata Sadran yang artinya ruwah, syakban. Tradisi Nyadran atau sadranan ini biasanya dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, yakni berupa seranngkaian upacara Ziarah kubur, berseh atau membersihkan makam dan mendoakan arwah leluhur atau kerabat yang sudah meninggal.

Dalam tradisi nyadran atau sadranan biasanya diakhiri dengan Selamatan atau Kenduri yang dilakukan oleh masyarakat dalam suatu wilayah Dusun, Desa atau Kelurahan, dimana dalam acara ini semua warga masyarakat Dusun atau Desa melakukan makan bersama di area sekitar Makam, setelah mereka selesai melakukan kegiatan Ziarah kubur, membersihkan makam dan mendoakan arwah leluhur atau kerabat yang sudah meninggal dan dimakamkan di makam tersebut.

Para warga  Desa Sumberagung sambil membawa nasi tumpeng, ingkung ayam dan aneka jajanan  berdatangan di rumah pamong desa yang dijadikan tempat ritual Sadranan. Seluruh peserta dengan penuh khidmat duduk berjajar mengikuti seluruh prosesi ritual yang ditandai berdoa bersama, dipimpin ulama desa atau sering disebut Modin atau Kaum.

Seusai doa untuk memohon keselamatan dan limpahan rejeki dari Yang Maha Kuasa, makanan yang mereka bawa kemudian dinikmati sebagai ungkapan syukur. Mereka juga saling bertukar makanan yang mereka bawa. Setelah acara di rumah pak Modin selesai, para warga pulang kerumah masing-masing dan berkumpul dengan seluruh keluarganya sambil menikmati makanan yang tadi dibawa.

Berita Terkini